BAB III
Model Etika Dalam Bisnis, Sumber
Nilai Etika dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Etika Manajerial
1.
Immoral Manajemen
Immoral manajemen merupakan
tingkatan terendah dari model manajemen dalam menerapkn prinsip-prinsip etika
bisnis. Manajemen yang memiliki manajemen tipe ini pada umumnya sama sekali
tidak mengindahkan apa yang dimaksud dengan moralitas, baik dalam internal
organisasinya maupun bagaimana dia menjalankan aktivitas bisnisnya.
Immoral manajemen dangat banyak kita temukan dalam
komunitas kita. Para pelaku bisnis yang tergolong pada tipe ini, biasanya
memanfaatkan kelemahan-kelemahan dan kelengahan-kelengahan dalam komunitas
untuk kepentingan dan keuntungan diri mereka secara individu atau kelompok
mereka. Kelompok manajemen ini selalu menghindari diri dari yang disebut Etika,
bahkan hokum dianggap sebagai batu sandungan dalam menjalankan bisnisnya.
Hasil penyelidikan oleh aparat
hokum dan juga oleh beberapa LSM pecinta alam. Berulang-ulangnya kebakaran
hutan belakangan ini karena beberapa palanggaran hokum oleh para perusahaan
kayu dan perkebunan kelapa sawit. Biasanay para pelaku memiliki beberapa motif
dalam menjalankan aktivitasnya.
·
Motif pertama adalah mendapatkan kayu secara
illegal. Beberapa perusahaan yang sengaja membakar hutan tersebut sebenarnya
adalah Perusahaan yang telah melakukan pencurian kayu, sehingga untuk
menghilangkan jejaknya mereka melakukan penebangan hutan secara sengaja. Hal
ini dibuktikan dengan melihat tunggal pohon bekas potongan gergaji mesin.
·
Motif kedua adlah mempecapat pembersihan lahan.
Misalnya bagi perusahaan yang memiliki perkebunan kelapa sawit di Kalimantan
Tengah. Hasil temuan dari LSM Save Our Borneo (SOB) aktifitas pembakaran ini di
lakukan pada malam hari pada blok yang baru dibuka dan berdekatan dengan hutan
cara itu adalah slah satu cara untuk menghilangkan jejak yaitu bila api
menyebar kehutan, maka yang disalahkan adalah komunitas yang melakukan
pembakatan.
·
Motif Ke tiga adalah Agar kenaikan PH tanah. Pada
lahan Gambut biasanya PH tanah berkisar pada 3-4. Kondisi ini Komunitas
perkebunan kelapa sawit dan AKASI tidak cocok tumbuh. Dengan melakukan
pembakaran, apa yang tersisa mampu menaikkan PH, Tanah menjadi 5-6 sehingga
layak untuk di Tanami
Contoh lain adalah munculnya teknologi Hp.,
dengan menggunakan Hp setiap orang bisa berkomunikasi jarak jauh dimanapun dia
berada, Apalagi sekarang berkembang sebuah teknologi baru yang disebut dengan
teknologi 3G (Thirdd-Generation),
dimana komunikasi tatap muka akan bias kita nikmati dari jarak jauh. Namun
disisi lain, kemudahan yang diperoleh dengan kemajuan teknologi informasi ini
banyak juga dimanfaatkan untuk memperkaya kepentingan pribadi sebagian orang.
2.
Amoral Manajemen
Tingkatan kedua dalam aplikasi etika dan moral dalam
manajemen adalah Amoral Manajemen. Berbeda dengan immoral manajemen, manajer
dengan tipe manajemen seperti ini sebenarnya bukan tidak tahu sama sekali yang
disebut dengan etika atau moralitas. Ada 2 jenis lain manajemen tipe amoral
ini, yaitu
a. Manajemen yang dikenal tidak sengaja
berbuat amoral (unintentional amoral manager). Tipe ini adalah para manajer
yang dianggap kurang peka, bahkan segala keputusan bisnis yang mereka perbuat
sebenarnya langsung atau tidak langsung akan memberiakan efek pada pihak lain.
Oleh karena itu meraka akan menjalankan bisnisnya tanpa memikirkan apaka
aktivitas bisnisnya sudah memiliki dimensi etika atau belum. Atau oleh para
pakar menyebutkan mereka sebagai manajer “ceroboh” atau kurang perhatian
terhadap amplikasi aktivitas mereka terhadap para stakeholdernya. Manajer
seperti ini mungkin saja punya niat baik, namun mereka tidak bias melihat bahwa
keputusan dan aktivitas bisnis mereka apakah sudah merugika pihak lain atau
tidak. Tipikal model manajer seperti ini biasanya mereka lebih berorientasi
hanya pada hokum yang berlaku, dan menjadikan hokum sebagai pedoman dalam
aktivitas mereka.
b. Tipe Manajer yang sengaja berbuat
amoral Manajemen dengan pola ini sebenarnya memahami ada aturan dan etika yang
harus jalankan, namun terkadang secara sengaja melanggar etika tersebut,
berdasarkan pertimbangan-pertimbangan bisnis mereka misalnya ingin melakukan
efisiensi dan lain-lain. Namun demikian manajer dengan tipe ini terkadang
berpandangan bahwa etika hanya berlaku bagi kehidupan pribadi kita, tidak untuk
bisnis. Mereka percaya bahwa aktivitas bisnis berada diluar dari
pertimbangan-pertimbangan etika dan moralitas.
3.
Moral Management
Tingkatan tertinggi dari penerapan nilai-nilai etika atau
moralitas dalam bisnis adalah moral manajemen. Dalam moral manajemen,
nilai-nilai etika dan moralitas diletakan pada level standar tertinggi dari
segala bentuk perilaku dan aktivitas bisnisnya. Manajer yang termasuk dalam
tipe ini tidak hanya menerima dan mematuhi aturan-aturan yang berlaku, namaun juga
telah terbiasa meletakkan prinsip-prinsip etika dalam kepemimpinannya. Seorang
manajer yang termasuk dalam tipe ini tentu saja menginginkan keuntungan dalam
bisnisnya, tapi jika hanya bisnis yang dijalankan dapat diterima secara legal
dan juga tidak melanggar etika yang ada dalam komunitas, seperti keadilan,
kejujuran, dan semangat untuk mematuhi hukum yang berlaku. Hukum bagi mereka
dilihat sebagai minimum etika yang harus mereka patuhi, sehingga aktivitas dan
tujuan bisnisnya akan diarahkan untuk melampaui atau melebihi dari apa yang
disebut sebagai tuntutan hukum. Manajeyang bermoral selalu melihat dan
menggunakan prinsip-prinsip etika seperti keadilan, kebenaran dan aturan-aturan
emas (golden rule) sebagai pedoman dalam segala keputusan bisnis yang diambilnya.
Ketika di lema etika muncul, Manajer
dengan tipe ini menanggung atau memikul posisi kepemimpinan untuk
perusahaan-perusahaan dan industrinya.
4.
AGAMA,
FILOSOFI, BUDAYA DAN HUKUM
Agama, sumber
dari segala moral dalam etika apapun dengan kebenarannya yang absolut.
Tiada keraguan dan tidak boleh diragukan nilai-nilai etika yang bersumber dari
agama. Agama berkorelasi kuat dengan moral. Setiap agama mengandung ajaran
moral atau etika yang di jadikan pegangan bagi para penganutnya. Pada
umumnya, kehidupan beragama yang baik akan menghasilkan kehidupan moral
yang baik pula. Bermula dari buku Max Weber The Protestant Ethic and
Spirit of Capitalism (1904-5) menjadi tegak awal keyakinan orang adanya hubungan
erat antara ajaran agama dan etika kerja, atau anatara penerapan ajaran agama
dengan pembangunan ekonomi. Etika sebagai ajaran baik-buruk, slah-benar, atau
ajaran tentang moral khususnya dalam perilaku dan tindakan-tindakan ekonomi,
bersumber terutama dari ajaran agama. Itulah sebabnya banyak ajaran dan paham
dalam ekonomi Barat menunjuk pada kitab Injil (Bibble), dan etika ekonomi
yahudi banyak menunjuk pada Taurat. Demikian pula etika ekonomi Islam termuat
dalam lebih dari seperlima ayat-ayat yang muat dalam Al-Qur’an.
Filosofi, Salah
satu sumber nilai-nilai etika yang juga menjadi acuan dalam pengambilan
keputusan oleh manusaia adalah ajaran-ajaran Filosofi. Ajaran filosofi tersebut
bersumber dari ajaran-ajaran yang diwariskan dari ajaran-ajaran yang sudah
diajarkan dan berkembang lebih dari 2000 tahun yang lalu. Ajaran ini sangat
komplek yang menjadi tradisi klasik yang bersumber dari berbagai pemikiran para
fisuf-filsuf saat ini. Ajaran ini terus berkembanga dari tahun ke tahun Di
Negara barat, ajaran filosofi yang paling berkembang dimulai ketika zaman
Yunani kuno pada abd ke 7 diantaranya Socrates (470 Sm-399 SM) Socrate percaya
bahwa manusia ada untu suatu tujuan, dan bahwa salah dan benar memainkan
peranan yang penting dalam mendefinisikan hubungan seseorang dengan lingkungan
dan sesamanya sebagai seorang pengajar, Socrates dikenang karena keahliannya
dalam berbicara dan kepandaian pemikirannya. Socretes percaya bahwa kebaikan
berasal dari pengetahuan diri, dan bahwa manusia pada dasarnya adalah jujur,
dan bahwa kejahatan merupakan suatu upaya akibat salah pengarahan yang
membebani kondisi seseorang. Pepatah yang terkenal mengatakan. : “Kenalilah
dirimu” dia yang memperkanalkan ide-ide bahwa hukum moral
lebih inggi daripada hukum manusia.
Budaya, Referensi
penting lainnya yang dapat dimanfaatkan sebagai acuan etika bisnis adalah
pengalaman dan perkembangan budaya, baik budaya dari suatu bangsa maupun
budaya yang bersumber dari berbagai negara (Cracken, 1986). Budaya yang
mengalami transisi akan melahirkan nilai, aturan-aturan dan
standar-standar yang diterima oleh suatu komunitas tertentu
dan selanjutnya diwujudkan dalam perilaku seseorang, suatu kelompok
atau suatu komunitas yang lebih besar. Budaya adalah suatu sistem nilai
dan norma yang diberikan pada suatu kelompok atau komunitas manusia dan
ketika itu disepakati atau disahkan bersama-sama sebagai landasan dalam
kehidupan (Rusdin, 2002).
Hukum, dalah
perangkat aturan-aturan yang dibuat oleh pemerintah dalam rangka untuk menjamin
kelangsungan hidup berbangsa dan bernegara. Hukum menentukan
ekspektasi-ekspektasi etika yang diharapkan dalam komunitas dan mencoba
mengatur serta mendorong para perbaikan-perbaikan masalah-masalah yang
dipandang buruk atau tidak baik dalam komunitas. Sebenarnya bila kita berharap
bahwa dengan hukum dapat mengantisipasi semua tindakan pelanggaran sudah pasti
ini menjadi suatu yang mustahil. Karena biasanya hukum dibuat setelah
pelanggaran yang terjadi dalam komunitas.
5.
LEADERSHIP
Leadership dalam bisnis sangat diperlukan karena berpengaruh dalam perkembangan
bisnis yang dilakukan. Bahkan ada yang mengatakan bahwasanya leadership atau
kepemimpinan merupakan sebuah karakter utama yang diperlukan dalam bisnis. Hal
ini tidak lain karena peran kepemimpinan berpengaruh terhadap jalannya bisnis
dan juga kinerja karyawan. Tidak setiap orang memiliki leadership yang baik.
Namun ada pula orang yang sejak masih kecil sudah terlihat jiwa
kepemimpinannya. Akhirnya seiring perkembangannya ia pun terbiasa mengatur dan
membuat keputusan yang berpengaruh pada sekitarnya. Hal ini sangat memiliki
peran penting dalam dunia bisnis. Dunia bisnis tidak selamanya berjalan mulus.
Adakalanya bertemu masalah yang harus diselesaikan dengan berbagai
risiko. Nah, disinilah peran penting seorang pemimpin akan
membawa pengaruh.
Jiwa Leadership Berperan Menyelesaikan Masalah
Tidak
sedikit permasalahan yang harus dihadapi oleh suatu organisasi atau perusahaan
bisnis. Peran penting seorang pemimpin perusahaan diperlukan untuk
menyelesaikannya. Tidak sekedar hadirnya seorang pemimpin namun yang
benar-benar memahami bagaimana menyelesaikan permasalahan tersebut. Selain itu
juga tetap mampu mendorong para bawahan atau anak buah untuk tetap bersemangat
dalam menyelesaikan pekerjaan. Jiwa kepemimpinan memang tidak selalu harus
dimiliki pemimpin perusahaan tersebut. Namun setiap orang yang memperoleh
tanggung jawab membawahi orang lain maka perlu meningkatkan kemampuan
leadership-nya. Hal ini diperlukan untuk mengelola bagaimana kerjasama antar
anak buah atau rekan kerja. Selain itu juga harus menemukan formula yang tepat
untuk meningkatkan keuntungan perusahaan dan hal tersebut bisa dipahami dan
dilakukan oleh anak buah dengan baik.
Kriteria Memiliki Jiwa Kepemimpinan
Ada
beberapa kriteria orang-orang yang memang memiliki jiwa kepemimpinan atau
leadership. Mungkin anda memiliki salah satu diantaranya atau mungkin semuanya
dari tiga kriteria berikut ini yaitu :
·
Mampu
memberikan inspirasi dan memberikan motivasi kepada orang lain misalnya kepada
bawahan.
·
Memiliki
kemampuan yang membuat orang lain merasa segan sehingga ketika berada dalam
sebuah organisasi maupun perusahaan ia pun disegani baik oleh rekan kerja
maupun rekan bisnis.
·
Memiliki
kewibawaan dan kebijaksanaan sehingga selain mampu menyelesaikan masalah juga
tetap disegani oleh para bawahan.
Bakat Kepemimpinan Bisa Dikembangkan
Setiap
orang sebenarnya memiliki bakat kepemimpinan. Namun kesuksesannya tentu tinggal
bagaimana masing-masing orang tersebut mengembangkan bakat yang dimilikinya.
Pada dasarnya seorang pemimpin akan memberikan pengaruh terhadap orang-orang
yang dipimpinnya. Artinya bagaimana pengaruh pemimpin perusahaan terhadap
perusahaannya tersebut bisa dilihat bagaimana perkembangan perusahaan atau
organisasi yang dipimpinnya tersebut. Apakah perusahaan mampu memiliki prestasi
yang baik misalnya memberikan banyak keuntungan atau justru mengalami kerugian.
Keberhasilan atau kegagalan bisnis perusahaan pasti akan berkaitan dengan pemimpin
yang bersangkutan. Dengan demikian leadership dalam bisnis merupakan
suatu hal yang harus diperhatikan karena perannya tidak bisa dianggap sebelah
mata.
6.
Strategi dan Performasi
Pendekatan
secara keseluruhan yang berkaitan dengan pelaksanaan gagasan,
perencanaan, dan eksekusi sebuah aktivitas dalam kurun waktu tertentu.Fungsi
yang penting dari sebuah manajemen adalah untuk kreatif dalam menghadapi
tingginya tingkat persaingan yang membuat perusahaannya mencapai tujuan
perusahaan terutama dari sisi keuangan tanpa harus menodai aktivitas bisnisnya
berbagai kompromi etika. Sebuah perusahaan yang jelek akan memiliki kesulitan
besar untuk menyelaraskan target yang ingin dicapai perusahaannya dengan
standar-standar etika. Karena keseluruhan strategi perusahaan yang disebut
excellence harus bisa melaksanakan seluruh kebijakan-kebijakan perusahaan guna
mencapai tujuan perusahaan dengan cara yang jujur.
7.
Karakteristik
individu
Merupakan
suatu proses psikologi yang mempengaruhi individu dalam memperoleh,
mengkonsumsi serta menerima barang dan jasa serta pengalaman. Karakteristik
individu merupakan faktor internal (interpersonal) yang menggerakan dan
mempengaruhi perilaku individu”.
8.
BUDAYA
PERUSAHAAN
Pengetian Budaya Perusahaan
Budaya adalah satu set nilai,
penuntun kepercayaan akan suatu hal, pengetian dan cara berpikir yang
dipertemukan oleh para anggota orgaanisasi dan diterima oleh anggota baru
seutuhnya. (W. Jack Duncan dalam “Organizational Culture: Getting a Fix on an
Elusive Concept”, Academy of Managemenr Executive 3 – 1989).
Berikut 10 karakteristik Budaya Organisasi :
§ Inisiatif individual
Definisi
inisiatif individual adalah tingkat tanggung jawab (responsibility),
kebebasan (freedom) atau independensi (independent) yang dimiliki
setiap individu dalam berpendapat. Kelompok khususnya pimpinan sebaiknya
menghargai dan memang perlu dihargai inisiatif individu dalam suatu organisasi
selama ide dan inisiatif tersebut berguna dalam memajukan dan mengembangkan
organisasi atau perusahaan.
§ Toleransi Terhadap Tindakan Berisiko
Setiap
pegawai dan anggota atau kader perlu ditekankan tentang batas batas dalam
bertindak agresif, inovatif dan mengambil risiko. Sebuah budaya organisasi yang
baik adalah sebuah budaya yang memberikan toleransi terhadap anggota atau para
pegawai dalam bertindak inovatif dan agresif dalam mengembangkan dan memajukan
organisasi atau perusahaan serta mendorong untuk berani dalam mengambil risiko
terhadap apa yang akan dilakukannya.
§ Pengarahan
Pengarahan
dimaksudkan sejauh mana suatu organisasi/perusahaan dapat membuat dengan jelas
sasaran dan harapan yang diinginkan. Sasaran dan harapan tersebut haruslah
secara jelas tercantum visi, misi dan tujuan organisasi (pengertian visi misi).
Keadaan yang seperti ini akan memberikan pengaruh terhadap kinerja
organisasi/perusahaan.
§ Integrasi
Integrasi
dalam budaya organisasi adalah kemampuan suatu organisasi atau perusahaan dalam
memberikan dorongan terhadap unit unit atau satuan dalam organisasi atau
perusahaan untuk bekerja dengan terpimpin atau terkoordinasi. Melalui kerja
yang kompak dan terkoordinasi dengan baik dapat mendorong kualitas dan
kuantitas pekerjaan yang dihasilkan oleh sebuah organisasi atau perusahaan.
§ Dukungan manajamen
Dukungan
manajemen dalam budaya organisasi adalah tentang kemampuan tingkat manajer
dalam sebuah organisasi atau perusahaan dalam berkomunikasi (baca pengertian
komunikasi) kepada karyawan. Komunikasi tersebut harusnya dalam bentuk
dukungan, arahan ataupun kritisi (membangun) kepada bawahan. Dengan adanya
dukungan manajemen yang komunikatif, sebuah perusahaan atau organisasi dapat
berjalan dengan mulus.
§ Kontrol
Kontrol
dalam budaya organisasi sangat penting. Kontrol yang dimaksud adalah peraturan
atau norma yang digunakan dalam suatu organisasi atau perusahaan. Oleh karena
itu diperlukan sejumlah peraturan dan tenaga pengawas (atasan langsung) yang
berfungsi sebagai pengawas dan pengendali perilaku pegawai dan karyawan dalam
suatu organisasi.
Identitas
dalam budaya organisasi adalah kemampuan seluruh karyawan dalam suatu
organisasi atau perusahaan dalam mengidentifikasikan dirinya sebagai suatu
kesatuan dalam perusahaan dan bukan sebagai kelompok kerja tertentu atau
keahlian profesional tertentu.
§ Sistem Imbalan
Sistem
imbalan tidak kalah pentingnya dalam budaya organisasi. Sistem imbalan seperti
pemberian kenaikan gaji, promosi (kenaikan jabatan), bonus liburan dan lainnya
haruslah berdasarkan kemampuan atau prestasi karyawan dalam bekerja dan sangat
tidak diperbolehkan atas alasan alasan perusak lainnya seperti senioritas,
pilih kasih dan hal hal lain yang berbau korupsi (baca pengertian korupsi).
Sistem imbalan dapat memberikan boost atau dorongan terhadap prestasi kerja dan
memberikan peningkatan dalam perilaku inovatif dan kerja maksimal sesuai
keahlian dan kemampuan yang dimiliki karyawan atau anggota dalam organisasi.
§ Toleransi terhadap Publik
Dalam
budaya organisasi, perbedaan pendapat yang memunculkan konflik sering terjadi
dalam sebuah perusahaan atau organisasi. Hal inilah yang harus dilakukan
sebagai upper manajement untuk mengarahkan konflik yang terbangun untuk
melakukan perbaikan serta perubahan strategi untuk mencapai tujuan organisasi.
Toleransi terhadap konflik harus dimediasi oleh pimpinan atau karyawan superior
sehingga terjadi kritis membangun dan tidak saling menyerang.
§ Pola komunikasi
Pola
komunikasi dalam perusahaan atau organisasi sering dibatasi oleh hierarki
kewenangan yang formal. Akan tetapi, pola yang terlalu ketat akan menghambat
perkembangan organisasi karena tidakadanya hubungan emosional yang kental terhadap
bawahan dan atasan dalam organisasi. Ada lima pola kinerja komunikasi yaitu
personal, passion, sosial, organizational politics, dan
enkulturasi.
REFERENSI :
Tidak ada komentar:
Posting Komentar