Minggu, 16 Desember 2012

Manusia dan Harapan

MANUSIA DAN HARAPAN

PERJALANAN HIDUP GELANDANGAN DAN PENGEMIS
Emperan pertokoan di Jalan Nyi Raja Permas, 05.00 WIB

Bursa koran yang sudah mulai menggeliat sejak pukul 02.00 dini hari.
Keseharianku yang menuntut harus menyambangi lokasi ini untuk mempersiapkan koran yang akan di antar ke pelanggan membuatku tak bisa menolak pemandangan aneh. Beberapa titik emperan pertokoan di jalan ini menjadi tempat untuk tidur. Hanya beralaskan kertas koran, karung plastik atau bahkan tanpa alas sama sekali. Mereka meringkuk dengan nikmatnya melepas lelah.
Kupertajam pandanganku pada beberapa sosok yang sedang tidur. Semuanya dari kaki hitam, muka cemong, rambut awut-awutan. Ada yang bergerombol 2-4 anak, ada yang menyendiri.

Sejenak kutangkap pandangan salah satu dari mereka dengan seksama... Ada anak umur 6 tahun, seumuran dengan anakku yang kedua. Betapa berdosanya orang tua yang dengfan sengaja menelantarkan 'amanah' dari Sang Pencipta.
Sungguh keadaan yang membuat pewaris 'penerus bangsa' ini harus seperti ini.

Sejenak kubenamkan lamunanku dalam tidurnya. Andai Aku jadi mereka..., sungguh sebuah kisah berat yang tak pernah kubayangkan. Dimana Ibu dan Bapaknya? Dari mana asal mereka? Tiadakah yang pedulikan mereka? Atau..... ini sengaja di kondisikan oleh orang tertentu dengan maksud tertentu... Aku tak kuasa untuk mencoba mengerti apa sebenarnya yang terjadi.

Betapa dingin rasa udara yang ada di sekelilingnya. Pastilah mereka juga rasakan itu, atau jangan-jangan sudah kebal?

Ku coba untuk memahami sebenarnya apa yang membuat mereka terjebak. Jika pun boleh memmilih, pasti dia tidak ingin hidup 'liar'.
Terngiang dalam ingatanku waktu masih sekolah. Dalam UUD 45 ada pasal yang berbunyi

'FAKIR MISKIN DAN ANAK TERLANTAR DI PELIHARA OLEH NEGARA'.

Di mana nyambungnya? Apa yang salah?

Sungguh ironis sebuah negara besar, kaya dengan sumber daya alam, sumber daya manusia tapi masih menelantarkan warganya.
Alih-alih untuk orang gelandangan, untuk dirinya dan keluarga jangan-jangan masih kurang terus...

Hai penguasa negeri ini, lihatlah dan perhatikanlah mereka.

manusia dan tanggung jawab serta pengabdian

Manusia dan tanggung jawab serta pengabdian

Tanggung Jawab terhadap Keluarga

Tanggung Jawab terhadap Keluarga(Manusia dan Tanggung Jawab serta Pengabdian)
Secara tradisional keluarga adalah tempat dimana manusia saling memberikan tanggungjawabnya. Si orang tua bertanggungjawab kepada
anaknya, anggota keluarga saling tanggungjawab. Anggota keluarga saling membantu dalam keadaan susah, saling mengurus di usia tua dan dalam keadaan sakit. Ketika salah satu anggota keluarga tidak ada rasa tanggungjawab kepada keluarganya maka dia pun tidak bisa bertanggungjawab terhadap dirinya sendiri akibatnya dia selalu mengandalkan oranglain contohnya ketika seorang anak terus-terusan di manjain oleh orangtuanya karena orangtuanya menganggap dengan tercukupi kebutuhannya sehari-hari itu sudah lebih dari cukup tetapi orangtua tidak bisa melihat dari dampak manja yang selalu diberikan orangtua,akibatnya anak tersebut tidak mempunyai rasa tanggung jawab yang tinggi dia selalu mengandalkan harta orangtuanya tanpa mengetahui susahnya untuk mencari kerjaan, pengabdiannya kepada keluarga juga tidak dapat dilakukan karena dia merasa kedua orangtuanya sibuk dengan pekerjaan masing-masing jadi dia bertindak sesuka maunya seperti tidak menuruti perintah orangtua, susah dibilangin,dan lain-lain.
Memanjakan anak sebenernya boleh saja tetapi tidak juga berlebihan karena itu bisa membuat anak menjadi pemalas tidak ada rasa tanggung jawab sama sekali dan dia selalu mengandalkan harta orangtuanya jika kedua orangtuanya merupakan orang yang kaya. Sebaiknya orangtua yang seperti itu kadang haruslah memberikan perhatian kepada anaknya agar anaknya merasa jika dia tidak sendirian dan sebaiknya dari usia dini sudahlah di ajarkan tanggung jawab agar kelak anaknya nanti bisa menjadi anak yang mempunyai rasa tanggung jawab yang tinggi dan bisa mandiri tanpa memandang harta orangtuanya.

manusia dan kegelisahan

 Manusia dan Kegelisahan

Aku Menangis Bersamamu, Rakyat Kecil

Aku menangis bersamamu, rakyat kecil: orang-orang miskin yang terpaksa antri beras murah berjam lamanya, yang tak punya biaya buat lanjutkan sekolah anaknya ke kota, yang terisak karena dirampas sawah dan ladangnya, yang semaput digebuk polisi karena terpaksa maling pupuk di gudang negara, yang ditampar yang ditinju yang dibanting serta diperkosa hak-haknya sebagai manusia.
"Wahai, Tuhan Yang Maha Kaya, beri kami Cinta!"
Aku menangis bersamamu, rakyat kecil: karena kalian hanya sanggup meratapi penindasan yang tak henti menggilas kehidupan tanpa mampu melakukan perlawanan, karena kalian cuma sanggup mengumpat dan mempertanyakan janji-janji keadilan dari bilik-bilik kalian yang kumuh sambil terbaring menahan perut yang kelaparan, karena kalian adalah mahluk kesayangan Tuhan.
"Wahai, Tuhan Pencipta Keadilan, beri kami Kekuatan."
Aku menangis bersamamu, rakyat kecil: yang kecut yang takut yang geram karena telah sekian lama dijadikan sapi perahan milik kaum modal dan penguasa, bangkitlah!, jangan diam saja, sekarang saatnya kita melawan, lawanlah kimiskinan, lawanlah pembodohan, lawanlah penjajahan yang telah berabad menginjak-injak nasibmu dengan sepatu lars kekuasaan, bersatulah wahai kaum yang kalah!, sekarang saatnya mewujudkan segala mimpimu akan keadilan yang telah sekian lama terpendam di dalam batin yang sakit dan terjajah, maju!, majulah rakyat kecil yang terhina, bersatulah, tunjukkan kini kuasa dirimu atas dunia.
"Wahai, Tuhan Penguasa Jagat Raya, beri kami Senjata."

Selasa, 27 November 2012

manusia dan keadilan



Manusia dan Keadilan

Keadilan Sosial Kasus Sandal


Shutterstock Ilustrasi
Oleh SUDJITO
Duduk perkara dan sidang pengadilan atas kasus ”pencurian” sandal sudah dibuka lebar-lebar oleh berbagai media, baik media cetak maupun elektronik.

AAL (15 tahun), pelajar SMK di Palu itu, dinyatakan terbukti mencuri sandal jepit polisi Polda Sulteng. Walau bersalah, dia tidak dihukum, tetapi dikembalikan ke orangtuanya. Publik tergagap-gagap dan bertanya, beginikah penegakan hukum di Indonesia? Pro dan kontra atas kasus itu pun berlangsung dalam perdebatan yang tak jelas juntrungnya. Perdebatan bukan hanya pada lapisan masyarakat yang ”awam” hukum, melainkan juga mereka yang ”ahli” hukum. Publik menafsirkan dan memaknai kasus sandal itu sesuai tingkat kepahaman masing-masing tentang hukum dan pengadilan.

Tak bisa dimungkiri, kekuatan publik dan media sangat berpengaruh pada penanganan kasus ini. Aksi pengumpulan ribuan sandal jepit ke Kapolri pun tak luput dari perhatian presiden meski tanpa diikuti tanggapan apa pun. Secara sosiologis, aksi tersebut pasti berpengaruh terhadap sikap hakim ataupun kualitas vonis yang dijatuhkannya.

Kasus yang tergolong ”kecil” dan dialami orang awam, anak-anak, remaja, atau orang miskin/lemah seperti ini memberi pelajaran berharga bagi publik bahwa hukum dan pengadilan negara itu amat esoterik, hanya dapat dipahami oleh profesional di bidang hukum. Langkah ibu AAL yang mendorong agar kasusnya dibuka di pengadilan untuk membuktikan bahwa anaknya tak mencuri tanpa disadari sudah menceburkan dirinya ke dalam dunia lain dan asing bagi dirinya, yaitu pengadilan.

Logika awam tak mencukupi untuk memahami bahasa, istilah, konsep, dan berbagai doktrin hukum positif yang berlaku di dunia pengadilan. Wajar ada pertanyaan, kok, putusannya seperti itu? Seto Mulyadi, Ketua Komisi Dewan Pembina Komnas Perlindungan Anak Indonesia, kecewa atas vonis hakim ini. Terbayangkan, betapa berat beban psikologis AAL harus menanggung stigma sebagai ”pencuri” yang melekat sepanjang hidupnya.

Logika awam vs hukum

Kasus ini membuktikan, logika awam dan logika hukum positif memang berbeda. Ketika kedua logika itu berada dalam jurang pemisah, kekecewaan publik akan muncul dalam berbagai bentuk, baik halus maupun dengan kekerasan. Di situlah semestinya ada kesadaran bagi semua profesional hukum untuk mempersempit jurang pemisah logika hukum tersebut.

Pada hemat saya, pelajaran terbaik dari kasus ini adalah perlunya pembenahan terhadap sistem peradilan pidana. Profesional hukum (polisi, jaksa, hakim, dan pengacara) bekerja berdasarkan sistem itu, padahal kewenangan masing-masing berpotensi besar berbenturan dengan keinginan publik. Indonesia perlu mengubah sistem itu menjadi social juctice system. Apabila sistem ini terbangun, semua kekuatan publik dan profesional hukum dapat berangkulan dalam satu panggung penegakan hukum sehingga logika publik dan logika hukum positif dapat dipertemukan. Bukankah penegakan hukum itu wajib berdasarkan Pancasila, yang sila kelima berbunyi: ”Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”?

Sudjito Guru Besar dan Ketua Program Doktor Ilmu Hukum UGM
 
Sumber :
Kompas Cetak

Kamis, 22 November 2012

manusia dan penderitaan


MANUSIA DAN PENDERITAAN

Derita Orang Miskin

DERITA ORANG MISKIN dan KEGELISAHAN ARWAH PEJUANG KEMERDEKAAN


DERITA ORANG MISKIN dan KEGELISAHAN
ARWAH PEJUANG KEMERDEKAAN

Oleh : Togar Lubis

“Orang miskin dilarang sakit, orang miskin juga dilarang sekolah”. Mungkin itulah ungkapan yang tepat sebagai gambaran bagaimana sulitnya mendapatkan pelayanan kesehatan dan mahalnya pendidikan bagi orang miskin di negeri ini. Ternyata, setelah 62 tahun Indonesia Merdeka, apa yang diamanatkan UUD 1945 bahwa “fakir miskin dan anak-anak terlantar ditanggung oleh negara” masih sangat jauh dari harapan kita.

Kita sangat terenyuh membaca kisah pedih yang dialami Lailasari dan Udin. Dua orang miskin di ibukota, mengalami kesulitan mendapatkan pelayan kesehatan dari Rumah Sakit hanya dikarenakan status keduanya adalah miskin. Sudah entah kemana perginya rasa perikemanusian dan rasa kepedulian sebagai sesama makhluk ciptaan Tuhan, sehingga pada hari pertama Lailasari ditolak 6 Rumah Sakit disebabkan tidak memiliki cukup uang. Rumah Sakit tersebut adalah RS. Budi Asih, RSCM, RSPAD Gatot Subroto, RSAL Mintoharjo, RS. UKI Cawang dan RS. Harapan Kita. Pada Rumah Sakit ketujuh, yaitu RS. Harapan Bunda di Jakarta Timur, akhirnya Muhammad Zulkifri anak dari pasangan Lailasari dan Husin ini diterima dan dirawat.

Nasib serupa juga dialami Udin si orang tua miskin. Anaknya yang sedang sakit bernama Ulis Muslimah dan masih berumur 9 hari, juga ditolak oleh 6 Rumah Sakit hanya dikarenakan status yang disandangnya adalah orang miskin. Diantara Rumah Sakit yang menolak merawatnya adalah RSCM, dan RSPAD Gatot Subroto. Ketika penolakan ini diungkapkan oleh Media, Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso berang dan mengancam akan mencabut ijin keenam Rumah Sakit tersebut.

Pasien yang ditolak oleh pihak Rumah Sakit disebabkan kemiskinan bukanlah hal yang baru terjadi di negeri ini. Selain penderitaan yang dialami Lailasari dan Udin, masih ada derita Maria Letsoin yang selama 3 minggu hanya bisa melepas rindu pada bayinya dari balik kaca ruangan rumah sakit akibat tidak mampu membayar biaya berobat buah hatinya. Selasa 16 Agustus 2005 lalu, atau satu hari menjelang peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-60, seorang ibu di Semarang bernama Siti Aminah terpaksa harus melahirkan bayi pertamanya di emperan toko emas setelah Puskesmas dan Klinik Bersalin menolaknya karena miskin.

Penderitaan Lailasari, Udin, Maria Letsoin dan Siti Aminah terungkap ke publik mungkin disebabkan penderitaan mereka secara kebetulan terekam oleh berbagai media massa. Masih banyak orang miskin lain yang mengalami nasib yang serupa bahkan mungkin mengalami perlakuan yang lebih buruk, terutama di daerah-daerah Kabupaten/Kota. Program pelayanan kesehatan untuk keluarga miskin (Gakin) atau Asuransi Kesehatan Miskin (Askeskin) yang dibiayai oleh pemerintah pusat ternyata banyak yang tidak sampai kepada yang seharusnya menerima atau tidak tepat sasaran. Bahkan program ini sering dimanfaatkan oleh oknum-oknum pejabat di daerah sebagai lahan empuk korupsi untuk memperkaya diri. Puskesmas dan Rumah Sakit milik pemerintah daerah sarat dengan praktek KKN, dari mulai melakukan mark up anggaran sampai dengan penjualan obat-obatan yang seharusnya diberikan gratis kepada pasien keluarga miskin.

Disamping persoalan sulitnya untuk mendapatkan pelayan kesehatan, orang miskin saat ini juga sulit untuk mendapatkan pendidikan, sebab pendidikan telah dikomersialisasikan. Jika komersialisasi pendidikan terjadi di sekolah yang dikelola pihak swasta, mungkin hal itu merupakan hal yang biasa. Namun yang terjadi saat ini, sekolah-sekolah negeri juga ikut-ikutan latah, padahal gaji guru dan biaya operasionalnya telah ditanggung oleh pemerintah.

Masih segar dari ingatan kita, bagaimana seorang siswa sekolah bernama Fifi Kusrini yang mengakhiri hidupnya secara tragis karena kemiskinan pada hari Jum’at 15 Juli 2005 lalu. Siswi kelas III SMP Negeri 10 Bekasi ini nekat menggantung diri karena kemiskinan orang tuanya. Kekuatan mental Fifi jatuh, ketika teman-temannya mengejeknya sebagai anak tukang bubur. Sebelumnya, tahun 2003 seorang siswa di Sanding, Garut, Jawa Barat, bernama Haryanto juga mengakhiri hidupnya karena kemiskinan. Nasib yang sama juga dialami oleh Eko Haryanto di Tegal, Jawa Tengah, tahun 2004. Tragedi demi tragedi kaum miskin tersebut merupakan bagian dari lembaran catatan hitam negeri yang telah 62 tahun merdeka ini.

Memperbesar alokasi anggaran di sector pendidikan bukan jaminan bahwa tragedi seperti di atas tidak akan terulang lagi. Ketika para koruptor masih terus bebas menggrogoti anggaran di sector ini, maka dapat dipastikan biaya pendidikan akan tetap tinggi. Seperti yang terjadi di Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, tahun 2004 lalu telah dialokasikan anggaran untuk sektor pendidikan sebesar 43% dari total APBD. Anggaran ini meliputi untuk belanja aparatur daerah pada Pos TK/SDN/SLTPN/SMUN/SMKN, biaya Ujian Akhir Nasional (UAN), Penerimaan Siswa Baru (PSB) dan pengadaan buku paket untuk siswa sekolah dasar. Namun ternyata disejumlah sekolah anggaran ini tidak disalurkan Dinas Pendidikan kepada pengelola sekolah, sehingga Kepala Sekolah dan Komite Sekolah mengambil kebijakan membebankan biaya-biaya tersebut sepenuhnya kepada siswa. Yang lebih tragis, Dinas Pendidikan Kabupaten Langkat melegalisasi bahkan ikut mengelola penjualan buku paket kepada siswa walau hal tersebut jelas melanggar SK. Mendiknas. Harga buku yang harus dibayar oleh siswa kelas 2 SD mencapai Rp. 30 ribu/buku.

Biaya Kesehatan dan Pendidikan merupakan dua kata yang “sangat menakutkan” bagi orang miskin di negeri ini. Akibat mahalnya biaya pendidikan dan sulitnya mendapatkan pelayan kesehatan, orang miskin mungkin sudah lupa apakah benar bangsa ini telah 60 tahun lamanya merdeka. Orang miskin mungkin baru menyadari bahwa bangsa ini telah merdeka ketika diperintahkan agar mengibarkan bendera merah putih di depan rumahnya.

Pada HUT Kemerdekaan RI ke-60 ini, kita kembali mengheningkan cipta untuk mengenang jasa dan berdo’a bagi arwah para pahlawan yang telah gugur dalam memperjuangkan kemerdekaan. Namun alangkah lebih baik, jika sambil mengheningkan cipta kita juga mengingat penderitaan yang dialami orang miskin. Orang miskin juga ikut memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, jadi mereka juga punya hak untuk menikmati arti kemerdekaan. Tidaklah manusiawi, jika orang miskin disanjung dan dikunjung serta dibutuhkan para elit hanya pada saat menjelang Pilkada dan Pemilu.

Kemiskinan bukanlah sebuah pilihan, orang-orang miskin adalah korban ketidakadilan. Orang miskin juga merupakan korban dari orang-orang kaya yang mengeruk kekayaan dengan semena-mena. Korban dari kapitalisme yang sama sekali tidak memberikan proteksi terhadap mereka yang tidak memiliki kapital. Memandang rendah terhadap orang miskin merupakan bukti nyata bahwa bangsa ini belum dapat menghargai mereka yang mencari nafkah secara halal. Disamping itu, hal tersebut juga membuktikan bahwa bangsa kita juga tidak mempunyai empati dan solidaritas sosial.

Tragedi demi tragedi orang miskin yang terus terjadi mungkin akan menyebabkan arwah para pejuang kemerdekaan negeri ini gelisah. Jika mungkin para Syuhada tersebut dapat berbicara, pada saat peringatan HUT Kemerdekaan RI kali ini mereka akan berkata : “penolakan dan penghinaan terhadap orang miskin merupakan penghianatan terhadap pengorbanan dan penjuangan kami”. Bagaimana menurut anda ?. Salam.




Karena Tidak Punya Uang Rp 200 Ribu, Derita pun Akhirnya Meninggal

Cianjur, CyberNews. Stigma masyarakat miskin dilarang sakit, seakan makin sering terdengar ditelinga. Sudah banyak kasus di negari ini di mana rumah sakit ataupun pihak medis sedikit berpihak saat si miskin sakit untuk datang berobat. Dan sedikitnya keberpihakan itulah yang membuat mereka meninggal sebab kurangnya penanganan dari pihak medis.

Kisah tragis kembali terulang, karena tidak memiliki uang sebesar Rp 200 ribu untuk membayar ambulans. Wawan mesti melepas kematian istri dan calon bayinya di depan matanya.

Kejadian tragis itu berawal Senin (11/1) dini hari sekitar pukul 02.30 WIB saat Derita Sahara (32) istri Wawan yang hamil tua dan sudah memasuki masa-masa melahirkan mengalami sembelit perut layaknya orang mau melahirkan, melihat istrinya ingin melahirkan Wawan pun segera menjemput Bidan desa (Bides) Popi untuk membantu persalinan istrinya.

Namun setelah bidan itu berusaha selama dua jam, belum bisa mengeluarkan bayi tersebut. Bidan pun akhirnya menyerah dan menyarankan untuk di bawa ke Puskesmas Pagelaran.

Lagi-lagi bidan tersebut tidak sanggup mengeluarkan bayi itu, karena peralatan yang ada di Puskesmas tersebut tidak memadai. Puskesmas pun berniat merujuk Derita ke RSU Cianjur. Untuk membawa Derita dari Puskesmas ke RSU Cianjur menggunakan ambulans milik Puskesmas dan pihak Puskesmas baru akan membawa Derita bila ada uang administrasi sejumlah Rp 200 ribu.

Wawan yang melihat penderitaan istrinya langsung pontang panting mencari pinjaman uang Rp 200 ribu, uang sejumlah itu baru didapatnya pukul 09.30 WIB. Ambulans yang membawa Derita pun berangkat setelah Wawan membayar uang administrasi tersebut, namun beberapa menit setelah mobil ambulans berangkat Derita menghembuskan nafas terakhirnya bersama bayi yang dikandungnya.

Menanggapi kasus meninggalnya Derita Sahara bersama bayi dalam kandungannya, Ketua Dewan Pengurus Kabupaten Serikat Rakyat Miskin Indonesia (DPK SRMI) Kabupaten Cianjur, Herman Sulaeman, Selasa (19/1) mengatakan, kasus tersebut terjadi murni akibat kelalaian pihak pengelola Puskesmas Pagelaran yang nyata-nyata telah melakukan tindak pembiaran terhadap pasien yang sedang mengalami masa kritis.

"Masa hanya karena uang Rp 200 ribu rupiah, pihak pengelola Puskesmas tega membiarkan korban berjam-jam tanpa penanganan jelas, yang seharusnya segera dilarikan ke RSU Cianjur. Ini jelas tidak bisa ditolerir," tegas Herman.

Terkait peristiwa tragis tersebut, Herman menuding pengelola Puskesmas Pagelaran sebagai pihak yang paling bertanggung jawab. "Dalam Undang Undang Kesehatan Nomor 36 Tahun 2009 dengan tegas antara lain disebutkan, bahwa dalam melayani kesehatan petugas wajib menomorduakan masalah materi dan harus mengutamakan keselamatan pasien terlebih dahulu," ungkapnya.

Manusia dan keindahan

 Manusia Dan Keindahan

Indahnya kota Yogyakarta

Sekarang gue akan menceritakan pengalaman gue sewaktu gue di Yogyakarta bulan lalu. Gue berada di Jogja sekitar 4 hari 3 malem, gue kesini pastinya ngga sendiri dong! Gue kesini berdua bareng "doi", kita backpacker-an. Perjalanan dari Jakarta ke Jogja sendiri bisa memakan waktu sampai 10 jam. Kita naik kereta ekonomi yang harganya cuma Rp.35.000. Maklum mental mahasiswa jadinya maunya yang murah-murah hehehe. Stasiun keberangkatannya dari Stasiun Senen, disana kita berhenti di Stasiun Lempuyangan.
Sampe distasiun lempuyangan, kita langsung cari penginapan yang direkomendasiin sama temen gue, yang "katanya" harganya murah. Ehhh ternyata harga hotelnya udah naik, kita nginep di Hotel Sunarko, hotelnya sih ngga gede tapi lumayan nyaman tempatnya dan sepi juga. Tarifnya itu Rp.100.000 sehari. Fasilitasnya enak, dikasih handuk masing-masing satu, dikasih air panas juga buat bikin kopi (buat yang ngopi), kasurnya juga ada 2 dan empuk. Ada kamar mandi dalem dan kipas juga. Tempatnya juga strategis, ada di Jln. Parangtritis No. 105, Yogyakarta. Sampe dihotel, kita langsung istirahat dan pada akhirnya GUE SAKIT :'( mungkin karna akibat naik kereta ekonomi yang sempit dan gue jg ngga tidur semaleman.
 

Disana kita nyewa motor buat jalan-jalan keliling Jogja. Tarif sewa motor disana itu sekitar Rp.45.000 - Rp.70.000, tergantung motor dan tempat sewanya. Dihari pertama, tempat wisata yang kita kunjungi disana yaitu, Malioboro. Kalian pasti tau kan apa itu malioboro? Yap disana adalah pusat perbelanjaan yang terkenal dan termasuk murah juga. Kita juga sempet mampir di Jembatan Sayidan, ini dia jembatannya...


Jembatan sayidan





Dan hari pun berganti ...
Hari keduanya kita langsung pergi ke sebuah pantai yang ada didaerah Gunung Kidul, memang agak jauh si dari hotel dan perjalanan kesana juga bisa sampe 2 jam naik motor. Tapi karna penasaran gue yang amat sangat akhirnya kita lanjut kesana dengan mengandalkan GPS. Nama pantainya adalah Pantai Sundak. Dan ternyata bener, pantainya BAGUUUUSSS banget, pasirnya putih, air lautnya yang jernih dan ngga banyak sampah juga. Disana juga ngga terlalu banyak pengunjung, itu karna letaknya yang agak jauh dari pantai disebelahnya. Ini dia foto pantainya!!!
 





Jernih kan airnya
 
Bagus banget kan pantainya?? Gratis lagi masuknya, paling cuma bayar parkir aja. Disana juga ada warung yang jual es kelapa. Siang-siang makan es kelapa dipinggir pantai itu... Romantis banget hehehe. Karna pantainya itu adanya dipelosok (alias jauh dari kota) jadi jarang ada sinyal disana. Gue harap bisa mampir ke pantai ini lagi dengan orang yang sama :)
Dihari ketiga, kita pindah ke House 24, hotel ini ada di Jl. Jogokaryan 24, Yogyakarta. Tarifnya itu lebih murah yaitu Rp.80.000, tapi buat kita pelayanannya kurang memuaskan dibanding hotel sunarko.
Hari itu, kita jalan-jalan kedua tempat sekaligus. Pertama kita ke Candi Prambanan, harga tiket masuk ke Candi ini adalah Rp.30.000 per-orang. Lumayan mahal ya??? Ini dia penampakannya



Pulang dari Candi Prambanan, kita lanjut lagi ke Pantai Parangtritis. Jaraknya ngga begitu jauh kaya Pantai Sundak tadi. Tapi disini pantainya rame banget, dan banyak juga yang bisa kita lakuin disini, ada penyewaan ATV tarifnya kalo ngga salah Rp.50.000, disini juga ada bendi. Itu lohh kereta kuda yang rodanya 2. Seperti biasa, minum es kelapanya ngga ketinggalan dong, kali ini ditemenin sama ini nihhh!!!
Mantep kan sunsetnya :D
Nah dihari keempat kita balik lagi ke malioboro buat beli oleh-oleh buat nyokap masing-masing. Sempet ada cekcok sih dijalan dan diliatin tukang becak hihihi. Dan sore baru deh kita balik lagi ke Jakarta naik kereta yang sama :)
Segitu aja ya pengalaman yang bisa gue share ke kalian, panjang juga ya tulisannya? hehehe. Nanti kalo jalan-jalan lagi, insya allah gue bakal share lagi disini. Oiya kalo kalian mau tau lebih dalam tentang Jogja bisa kalian liat disini! Dan yang gue tau, kota Jogja akan selalu bikin gue kangen, sama tempat wisatanya, lalu lintasnya juga ngga macet, makanan yang murah dan orangnya yang ramah-ramah.
That was amazing trip! I hope we can visit this place again someday.
I LOVE YOU YOGYAKARTA 

manusia dan cinta kasih

Manusia dan Cinta kasih

Besarnya kasih sayang ibu kepada anaknya



KASIH SAYANG

Kata kasih dan sayang itu mengandung pengertian yang sangat luas. Dan yang pasti setiap insan manusia perlu tahu dan mengerti apa makna kasih sayang yang sebenarnya, sekaligus memilikinya di dalam sanubari. Seseorang akan terlanda kekeringan jiwa jika hidup tanpa memiliki kasih maupun sayang. Apapun yang terjadi, pasti dia akan selalu ingin cintai sekaligus mencintai orang lain. Dari pertama kali lahir di dunia sampai ajal menjemput.

Yang dimaksud dengan kasih dan sayang di sini bukan sekadar hubungan cinta atau asmara antara seorang laiki-laki dan perempuan saja. Namun lebih bersifat universal. Sehingga hal ini bisa terjadi terhadap sahabat, saudara, keluarga dan lain-lain. Dan yang perlu ditekankan adalah, bahwa kasih dan sayang yang tulus itu selalu punya sifat yang ikhlas dan lebih banyak memberi daripada menerima. Kepentingan diri sendiri sering dinomor duakan demi memberi kebahagiaan pada orang yang dikasih dan disayanginya.
                    
KEMESRAAN

Kemesraan berasal dari kata mesra yang berarti erat atau karib sehingga kemesraan berarti hal yang menggambarkan keadaan sangat erat atau karib. Kemesraan juga bersumber dari cinta kasih dan merupakan realisasi nyata. Kemesraan dapat diartikan sama dengan kekerabatan, keakraban yang dilandasi rasa cinta dan kasih.
Tingkatan kemesraan dapat dibedakan berdasarkan umur, yaitu:
·         Kemesraan dalam Tingkat Remaja, terjadi dalam masa puber atau genetal pubertas yaitu dimana masa remaja memiliki kematangan organ kelamin yang menyebabkan dorongan seksualitasnya kuat.
·         Kemesraan dalam Rumah Tangga, terjadi antara pasangan suami istri dalam perkawinan. Biasanya pada tahun tahun wal perkawinan, kemesraan masih sangat terasa, namun bisa sudah agak lama biasanya semakin berkurang.
·         Kemesraan Manusia Usia Lanjut, Kemsraan bagi manusia berbeda dengan pada usia sebelumnya. Pada masa ini diwujudkan dengan jalan – jalan dan sebagainya.

OPINI : 
manusia dan cinta kasih merupakan rasa suka terhadap sesama manusia, maupun makhluk hidup lainnya karna jika merawat, memelihara makhluk hidup maupun mencintai sesama manusia tidak dengan cinta dan kasih sayang maka tidak akan berlangsung lama dalam artian kebersamaan nya, Tidak ada manusia yang tidak memiliki rasa cinta kasih. Cinta kasih memiliki tiga tingkat cinta dan mamiliki berbagai bentuk cinta.

CONTOH :
BESARNYA KASIH SAYANG IBU KEPADA ANAKNYA


Begitu Besarnya Kasih Sayang Ibu kepada Anaknya, cerita ini bisa saja menjadi renungan bagi kita bersama, betapa besar nya kasih sayang seorang Ibu kepada anaknya.Ibuku hanya memiliki satu mata. Aku membencinya, ia adalah sebuah hal yang memalukan. Ibuku menjalankan sebuah toko kecil pada sebuah pasar.Dia mengumpulkan barang-barang bekas dan sejenisnya untuk dijual, apapun untuk mendapatkan uang yang kami butuhkan. Ia adalah sebuah hal yang memalukan.Pada suatu hari di sekolah. Aku ingat saat itu hari ketika ibuku datang. Aku sangat malu. Mengapa ia melakukan hal ini kepadaku? Aku melemparkan muka dengan rasa benci dan berlari. Keesokan harinya di sekolah.. “Ibumu hanya memiliki satu mata?” dan mereka semua mengejekku.Aku berharap ibuku hilang dari dunia ini maka aku berkata kepada ibu aku,”Ibu, kenapa kamu tidak memiliki mata lainnya? Ibu hanya akan menjadi bahan tertawaan. Kenapa Ibu tidak mati saja?” Ibu tidak menjawab. Aku merasa sedikit buruk, tetapi pada waktu yang sama, rasanya sangat baik bahwa aku telah mengatakan apa yang telah ingin aku katakan selama ini.Mungkin itu karena ibu tidak menghukum aku, tetapi aku tidak berpikir bahwa aku telah sangat melukai perasaannya.Malam itu, Aku terbangun dan pergi ke dapur untuk mengambil segelas air. Ibuku menangis disana, dengan pelan, seakan ia takut bahwa ia akan membangunkanku. Aku melihatnya, dan pergi. Karena perkataanku sebelumnya kepadanya, ada sesuatu yang mencubit hati aku.Meskipun begitu, Aku membenci ibuku yang menangis dari satu matanya. Jadi, Aku mengatakan diri ku jikalau aku akan tumbuh dewasa dan menjadi sukses, karena aku membenci ibu bermata-satu aku dan kemiskinan kami.Lalu aku belajar dengan keras. aku meninggalkan ibu dan ke Seoul untuk belajar, dan diterima di Universitas Seoul dengan segala kepercayaan diri. Lalu, aku menikah. aku membeli rumah milikku sendiri. Lalu aku memiliki anak-anak juga. Sekarang, aku hidup bahagia sebagai seorang pria yang sukses. aku menyukainya disini karena ini adalah tempat yang tidak meningatkan aku akan ibu.Kebahagiaan ini menjadi besar dan semakin besar, ketika seseorang tidak terduga menjumpai aku “Apa?! Siapa ini?”… Ini adalah ibu aku.. tetap dengan satu matanya. Ini rasanya seperti seluruh langit sedang jatuh ke diri aku. Anak perempuan aku lari kabur, takut akan mata ibu aku.Dan aku bertanya kepadanya, “Siapa Anda? aku tidak mengenalmu!!” sandiwara aku. aku berteriak kepadanya “Mengapa engkau berani datang ke rumah aku dan menakuti anak aku! Pergi dari sini sekarang juga!”Dan ibu dengan pelan menjawab, “Oh, maafkan aku. aku pasti salah alamat,” dan dia menghilang. Terima kasih Tuhan.. Ia tidak mengenali aku. aku merasa cukup lega. aku mengatakan kepada diri aku bahwa aku tidak akan peduli, atau berpikir tentang ini sepanjang sisa hidup aku.Lalu ada perasaan lega datang kepada aku.. Suatu hari, sebuah surat mengenai reuni sekolah datang ke rumah aku. aku berbohong kepada istri aku mengatakan bahwa aku akan pergi perjalanan bisnis. Setelah reuni ini, aku pergi ke rumah lama aku.. karena rasa penasaran saja, aku menemukan ibu aku terjatuh di tanah yang dingin. Tetapi aku tidak meneteskan satu air mata sekalipun. Ia memiliki sepotong kertas di tangannya.. dan itu adalah surat untuk diri aku.============================================================================================Anakku,Aku pikir hidupku sudah cukup lama saat ini. Dan.. aku tidak akan mengunjungi Seoul lagi.. tetapi apakah itu terlau banyak jikalau aku ingin kamu untuk datang menunjungiku sekali-kali nak? aku sangat merindukanmu. Dan aku sangat lega ketika mendengar kamu akan datang dalam reuni ini.Tetapi aku memutuskan untuk tidak datang ke sekolah.. Untuk Kamu.. aku meminta maaf jikalau aku hanya memiliki satu mata dan aku hanya membawa kemaluan bagi dirimu.Kamu tahu, ketika kamu masih sangat kecil, kamu terkena sebuah kecelakaan, dan kehilangan satu matamu. Sebagai seorang ibu, aku tidak tahan melihatmu harus tumbuh dengan hanya satu mata.. maka aku memberikanmu mata aku.. aku sangat bangga kepada anak aku yang melihat dunia yang baru untuk aku, menggantikan aku, dengan mata itu.Aku tidak pernah marah kepadamu atas apapun yang kamu lakukan. Beberapa kali ketika kamu marah kepada aku. aku berpikir sendiri,”Ini karena kamu mencintai aku.” Aku rindu waktu ketika kamu masih sangat kecil dan berada di sekitarku.Aku sangat merindukanmu. Aku mencintaimu. Kamu adalah duniaku.




manusia dan kebudayaan


MANUSIA DAN KEBUDAYAAN
 Penari Terakhir Ronggeng Gunung
Ronggeng gunung adalah tarian khas dari Ciamis. Konon, tarian ini muncul atas nama cinta dan dendam Dewi Siti Samboja, putri ke-38 Prabu Siliwangi.
Penari Terakhir Ronggeng Gunung
Meski gincu merah di pipi mulai pudar tersapu keringat, mata Raspi tetap berbinar-binar. Rasa lelah sepertinya enggan meninggalkan jejak di wajah si maestro tari ronggeng gunung terakhir ini. Saat pagi mulai menanti di persimpangan hari, Raspi tetap bersemangat menari.
"Saya senang ternyata banyak yang ikut menari. Semakin banyak yang ikut menari, ronggeng gunung semakin terasa nikmatnya. Tarian ini adalah tarian rakyat,” ujar Raspi dalam bahasa Sunda selepas menari selama 2 jam tanpa henti pada malam pergantian tahun menuju 2011 di lapangan parkir Kebun Binatang, Bandung, Jumat (31/12/2010) mulai pukul 24.00.
Perasaan bangga pun berlipat ganda karena ternyata banyak anak muda di kota besar masih ingin mengetahui dan belajar ronggeng gunung, satu hal yang jarang ia temui lagi. ”Ronggeng gunung semakin sepi peminat, khususnya generasi muda, dalam beberapa tahun terakhir,” ujarnya.
Mereka lebih memilih pentas organ tunggal ketimbang kendang, ketuk, dan gong ala ronggeng gunung. Alasannya, lebih murah dan mutakhir. Kalaupun ada yang menanggap, biasanya hanya kerabat Raspi, yang tinggal dekat rumahnya di Cikukang, Desa Ciulu, Kecamatan Banjarsari, Ciamis, Jawa Barat. Itu pun sebatas penari pendamping atau belajar memainkan musik pengiring.
”Hinaan atau cemoohan sudah sering saya dengar saat pentas atau mencoba mengajarkan ronggeng gunung. Ronggeng gunung dianggap kuno dan membosankan,” katanya. Namun, Raspi tidak peduli. ”Saya hanya ingin menari,” ujar perempuan asal Ciamis ini.
Tak berbekas
Ronggeng gunung adalah tarian khas dari Ciamis. Konon, tarian ini muncul atas nama cinta dan dendam Dewi Siti Samboja, putri ke-38 Prabu Siliwangi, karena kekasihnya, Raden Anggalarang, tewas di tangan perompak. Namun, perlahan dendam itu berubah menjadi ungkapan syukur masyarakat pegunungan Ciamis atas hasil ladang dan sawah.
Raspi mengatakan, tari ini sempat menemukan masa emasnya pada 1970-1980. Saat itu, ia selalu kewalahan memenuhi panggilan pentas. Selama 40 tahun menari, ia pernah merasakan dibayar dari Rp 200 hingga Rp 3 juta per pertunjukan.
Akan tetapi, masuk tahun 1990-an ronggeng gunung perlahan tenggelam di tengah gemerlap kehidupan modern. Banyak penari ronggeng dan pemusiknya pensiun karena tidak ada lagi yang mengundang mereka. Puncaknya, Raspi bersama lingkung seni Panggugah Rasa—satu-satunya kelompok ronggeng gunung yang bertahan—paling banyak hanya sekali pentas dalam tiga bulan selama tahun 2010.
”Sepi sekali dalam beberapa tahun terakhir. Biasanya panggilan tampil ada saat bulan haji atau Syawal sebagai pengisi acara syukuran atau ruwatan,” katanya.
Kini, keberadaan ronggeng gunung pun terancam tak berbekas. Fakta bahwa Raspi adalah maestro ronggeng gunung terakhir membuktikan bahwa kesenian ini rentan menambah daftar merah kesenian rakyat yang terancam punah di Jabar.
Hingga tahun 2010, tercatat ada 40 kesenian terancam punah. Baru lima yang bisa direvitalisasi, yaitu gamelan ajeng dari Karawang, angklung badud (Kota Tasikmalaya), parebut seeng (Kabupaten Bogor), lisung (Ciamis), dan sandiwara (Ciamis).
Buah ketekunan
Kecintaan Raspi kepada ronggeng gunung tidak lepas dari perjalanan hidupnya sejak kecil. Ia mempelajarinya secara tidak sengaja saat kabur dari rumah karena hendak dinikahkan saat berusia 13 tahun. Guru pertamanya adalah Maja Kabun dari Padaherang, Ciamis.
Raspi mengakui tidak mudah mempelajari ronggeng gunung. Ronggeng wajib memiliki fisik kuat. Alasannya, ronggeng harus memiliki kemampuan olah vokal dalam nada tinggi sekaligus menari dalam waktu lama. Ronggeng gunung biasanya dipentaskan 2 jam hingga 12 jam per pertunjukan.
Raspi memiliki pengalaman menarik saat penari asal Amerika Serikat, Hally, minta diajari tari ronggeng gunung. Hally dikatakan termasuk cepat menguasai gerakan tari. Namun, dia menyerah saat belajar menari dan menyanyi dengan nada tinggi secara bersamaan.
Hally tambah kewalahan saat harus mengingat lagu-lagu khas ronggeng gunung. Biasanya, ada enam hingga delapan lagu yang dibawakan dalam satu pertunjukan.
Judul lagu antara lain ”Kudup Turi”, ”Sisigaran Golewang”, ”Raja Pulang”, ”Onday”, ”Kawungan”, ”Parut”, dan ”Trondol”. Sebagian besar bertema kerinduan kepada kekasih dan sindiran kepada perompak pembunuh Anggalarang.
”Sekarang saya mencoba meneruskan tarian ini kepada Nani Nurhayati, anak kandung saya. Namun, setelah sembilan tahun, Nani belum terlalu mahir dan masih harus banyak belajar,” katanya.
Ketekunannya mempertahankan akar ronggeng gunung perlahan mulai membuahkan hasil. Ia berhasil mendapat penghargaan dari Taman Mini Indonesia Indah tahun 1997 dan penghargaan dari Gubernur Jawa Barat 10 tahun kemudian. Yang teranyar adalah bantuan dana pembuatan pedepokan seni Rp 200 juta dari Pemerintah Provinsi Jabar tahun 2009.
Namun, yang paling bisa menenangkan hatinya adalah munculnya pengembangan, seperti ronggeng kaler dan kidul. Ronggeng kaler populer di daerah utara, seperti Kuningan, sedangkan ronggeng kidul tumbuh di daerah selatan, seperti Garut dan Tasikmalaya. Keduanya memakai perangkat gamelan lengkap.
Ronggeng gunung pun disajikannya lebih bervariasi, seperti perbedaan tari untuk hiburan atau adat. Ronggeng upacara adat biasanya dibawakan dengan pakem tertentu, seperti pentingnya tata urutan lagu, sedangkan ronggeng untuk hiburan biasanya lebih fleksibel karena tidak ada pakem urutan lagu.
”Ke depan, saya berharap perhatian tidak hanya itu. Saya ingin semua pihak turut membantu melestarikan dan mempertahankan ronggeng gunung sepeninggal saya nanti,” katanya.
Kini di masa tuanya, Raspi masih menyimpan harap. Ke depan, ia berharap semakin banyak masyarakat yang tertarik mementaskan dan mempelajari ronggeng gunung sebagai warisan tradisional bangsa. Ia ingin menjaga ronggeng gunung tetap dikenal masyarakat sekaligus memberikan suntikan semangat kepada generasi muda bahwa ronggeng gunung juga bisa diandalkan membiayai kebutuhan hidup.
”Kalau sekarang, rumah layak pun saya belum punya karena hanya tinggal di rumah reyot. Kadang-kadang suka risi karena punya sanggar baru, tapi rumahnya tidak layak. Semoga ini tidak dialami ronggeng selanjutnya,” ujar Raspi malu-malu sembari menutupi mulut dengan kedua tangannya.

TINJAUAN TENTANG ILMU BUDAYA DASAR


TINJAUAN TENTANG ILMU BUDAYA DASAR

1.      Tinjauan Tentang IBD
Mata kuliah IBD adalah salah satu mata kuliah yang membicarakan mengenai :
a. Nilai-nilai kehidupan / Norma-norma :
  • Nilai adalah harga yang digunakan untuk menjelaskan hal-hal yang bersifat kebendaan baik dari segi artistik,segi usia benda,dan menyangkut pada penghargaan terhadap suatu tradisi/kebiasaan suatu masyarakat tertentu.
  • Norma adalah ukuran-ukuran nilai hukum tradisi yang berlaku pada masa dan komunitas masyarakat tertentu. Contoh : Seperti nilai-nilai aturan dimasyarakat sasak di lombok yang mengharuskan seorang pria mencuik gadisnya terlebih dahulu dan dibawa kerumah sebelum dinikahinya,dan aturan ini hanya berlaku pada masyarakat sasak saja.
b. Kebudayaan
  • Kebudayaan adalah suatu kesenian adat istiadat yang berstruktur dan  terbagi dalam berbagai macam aspek kesenian,bahasa,adat istiadat,budaya daerah maupun nasional yang dimiliki setiap manusia sebagai anggota masyarakat.
c. Berbagai macam masalah yang dihadapi manusia dalam kehidupan sehari-hari.
  • Banyak masalah yang dihadapi manusia dikehidupannya sehari-hari berupa pekerjaan,ekonomi,dan budaya. Salah satu masalah yang terjadi mengenai budaya,yakni hasil kesenian budaya indonesia berupa Tari pendet,Reok Ponorogo,Batik solo,dan masih banyak lagi dijajah atau diakui kepemilikannya oleh bangsa lain yaitu Malaysia.
Setelah mendapatkan mata kuliah IBD mahasiswa diharapkan dapat memperlihatkan :
  • Minat dan kebiasaan menyelidiki apa-apa yang terjadi disekitarnya dan diluar lingkungannya.
  • Kesadaran akan pola-pola nilai yang dianutnya serta bagaimana hubungan nilai-nilai ini dengan cara kehidupan sehari-harinya.
  • Kerelaan kembali dengan hati terbuka nilai-nilai yang dianutnya untuk mengetahui apakah secara berdiri sendiri ia membenarkan nilai-nilai tersebut untuk dirinya sendiri.Hal ini guna memperluas pandangan mereka mengenai masalah kebudayaan dan dapat mengembangkan daya kritis mereka.
  • Keberanian moral dan tanggung jawab pada nilai yang sudah dianggapnya benar dan menolak nilai-nilai yang tidak dapat dibenarkan.Misalnya ada mahasiswa yang menawarkan rokok,kita dapat menolaknya dan mencari kegiatan lain yang lebih positif.
Latar belakang IBD dalam konteks budaya dan masyarakat berkaitan dengan permasalahan sebagai berikut :
a. Indonesia terdiri dari berbagai macam suku bangsa dan keanekaragaman yang tidak lepas dari ikatan primordial,kesukuan,dan kedaerahan.
  • Primordial adalah suatu pandangan / paham yang memegang teguh hal-hal yang dibawanya sejak kecil mengenai tradisi,adat istiadat,kepercayaan yang ada didalam lingkungannya,memiliki sikap melestarikan budayanya namun dapat membuat individu bersifatetnosentrisme.
b. Proses pembangunan yang menimbulkan perubahan sistem budaya hingga mental manusia pengaruhnya.
  • Hal ini disebabkan karena pembangunan di Indonesia yang tidak merata,karena tidak meratanya pembangunan maka mental manusia pun dapat dengan mudah terpengaruh dengan budaya asing,budaya asing sangat lah tidak cocok dengan gaya hidup kita yang ketimur-timuran misalnya saja dari segi pakaian kita cenderung tertutup namun budaya barat lebih buka-bukaan.
c. Kemajuan IPTEK menimbulkan perubahan kondisi kehidupan Indonesia.
  • teknologi selain berdampak baik juga berdampak buruk untuk masyarakat,karena dengan kemudahan-kemudahan yang diberikannya menjadikan masyarakat cenderung malas.
2. Ilmu Budaya Dasar Sebagai Bagian dari Mata Kuliah Dasar Umum
Secara khusus MKDU bertujuan untuk menghasilkan warga negara sarjana yang berkualitas sebagai berikut :
a. Berjiwa Pancasila
  • Sehingga segala tindakan maupun keputusannya mencerminkan nilai nilai pancasila,dengan mendahulukan kepentingan nasional dibanding kepentingan pribadi.
b. Taqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa
  • Ini adalah sikap yang haring dimiliki oleh setiap manusia,harus selalu menjalankan printahnya dan menjauhi larangannya,harus bertindak sesuai yang diajarkan agamanya,dan bertenggang rasa antar umat beragama.
c. Memiliki wawasan komperhensif dan pendekatan integral dalam menyikapi masalah sosial,ekonomi,budaya,politik,maupun pertahanan keamanan.
  • Wawasan komperhensif maksudnya mahasiswa diharapkan mampu menangkap dengan ruang lingkup,permasalahan yang timbul dari berbagai aspek,hingga dapat memperlihatkan wawasannya yang luas.
d. Memiliki wawasan budaya yang luas tentang kehidupan masyarakat,dan mampu berperan serta meningkatkan kualitasnya dan berperan serta dalam pelestarian alam.
  • Karena kebudayaan merupakan warisan turun temurun yang dimiliki suatu negara maka masyarakat terutama pemuda diharap dapat ikut berperan aktif guna mempelstarikan budaya maupun alam agar tidak punah dan dijajah oleh negara lain.
3.Pengertiasn Ilmu Budaya Dasar
IBD adalah pengetahuan yang duarapkan dapat memberikan pengetahuan dan pengertian umum tentang konsep-konsep yang dikembangkan untuk mengkaji masala-masalah kemanusiaan dan kebudayaan.
Menurut Prof.Dr.Harsya Ilmu Pengetahuan dikelompokan dalam tiga kelompok besar,yaitu :
1. Ilmu-ilmu alamiah ( Natural  Science )
  • Bertujuan mengetahui keteraturan keteraturan dialam semesta. Kajiannya menggunakan metode alamiah,dapat 100% benar 100% salah. Contoh : astronomi,fisika,kimia,kedokteran.
2. Ilmu-ilmu sosial ( Sosial Science )
  • Bertujuan mengkaji keteraturan-keteraturan yang terdapat dalam hubungan antar manusia. Kajian mengunakan metode alamiah,hasilnya mungkin 100% benar hanya mendekati kebenaran. Contoh : Ilmu ekonomi, sosiologi, polotik, demografi, psokologi, sosiologi hukum, dsb.
3. Pengetahuan Budaya ( The Humanities )
  • Bertujuan untuk memaham dan mencari arti kenyataan-kenyataan yang besifat manusiawi. Metode pengungkapan peristiwa-peristiwa dan pernyataan yang bersifat unik,kemudian diberi arti.
4. Tujuan Ilmu Budaya Dasar
  • Mengusahakan kepekaan mahasisa terhadap lingkungan budaya,sehingga mereka lebih mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru,terutama untuk kepentingan profesi.
  • Memberi kesempatan pada mahasiswa memperluas pandangan mereka tentang masalah kemanusiaan dan budaya serta mengembangkan daya kritis terhadap persoalan yang menyang kut kedua hal tersebut.
  • Mengusahakan masasiswa sebagai calon pemimpin bangsa tidak jatuh kedalam sifat yang kedaerahan  dan perkotaan disiplin yang ketat. “kedaerahan dan perkotaan adalah disiplin yang ketat hal ini terjadi karena lingkup pendidikan yang sempit,hingga membuat manusia berpandangan kurang luas.
  • Menguasai ahana komunikasi para akademisi agar mereka lebih mampu berdialog satu sama lain.
5. Ruang lingkup Ilmu Budaya Dasar
Dua Masalah Pokok :
  • Aspek kehidupan merupakan ungkapan masalah kemanusiaan dan budaya yang didekati dengan pengetahuan budaya,selain itu dari segi disiplin dalam pengetahuan budaya maupun gabungan antar bidang.
  • Hakekat manusia yang Universal namun beraneka ragam perwujudannya,seperti yang terlihat pada ekspresinnya dalam berbagai bentuk,corak,pikiran,tingkah laku,perasaan.
Pokok Bahasan yang dikembangkan adalah :
1. Manusia dan Cinta kasih
  • Kasih Perwujudan perasaan cinta pada sesama karya-karya seperti sajak percintaan,rekaman lagu percintaan,dsb.
2.Manusia dan keindahan
  • Sulit untuk dipisahkan,diperluaskan pelestarian bentuk yang dituang dalam seni rupa,seni suara,dll.
3.Manusia dan Penderitaan
  • Derita berarti merasakan sesuatu yang tidak menyenangkan.
4. Manusia dan Keadilan
  • Keadilan sebuah pengakuan dan pelakuan yang seimbang antar hak dan kewajiban.
5. Manusia dan Pandangan Hidup
  • Manusia yang memiliki pandangan hidup berarti memiliki rencana untuk mengarahkan tujuan hidupnya untuk berbuat dan berpikir harus apa.
6. Manusia dan Tanggung Jawab serta Pengabdian
  • Tanggung jawab adalah sifat terpuji yang mendasar dari manusia. Setiap orang harus memilikinya,karena tanggung jawab tidak akan pernjah lepas dari setiap insan manusia
7. Manusia dan Kegelisahan
  • Kegelisahan timbul karena kadaan yang membuatnya terancam atau orang yang sedang berada dikeadaan yang tak lazim
8. Manusia dan Harapan
  • Menginginkan sesuatu yang dianggapnya benar serta jujur oleh setiap manusia hingga bisa memilikinya.