Minggu, 16 Desember 2012

Manusia dan Harapan

MANUSIA DAN HARAPAN

PERJALANAN HIDUP GELANDANGAN DAN PENGEMIS
Emperan pertokoan di Jalan Nyi Raja Permas, 05.00 WIB

Bursa koran yang sudah mulai menggeliat sejak pukul 02.00 dini hari.
Keseharianku yang menuntut harus menyambangi lokasi ini untuk mempersiapkan koran yang akan di antar ke pelanggan membuatku tak bisa menolak pemandangan aneh. Beberapa titik emperan pertokoan di jalan ini menjadi tempat untuk tidur. Hanya beralaskan kertas koran, karung plastik atau bahkan tanpa alas sama sekali. Mereka meringkuk dengan nikmatnya melepas lelah.
Kupertajam pandanganku pada beberapa sosok yang sedang tidur. Semuanya dari kaki hitam, muka cemong, rambut awut-awutan. Ada yang bergerombol 2-4 anak, ada yang menyendiri.

Sejenak kutangkap pandangan salah satu dari mereka dengan seksama... Ada anak umur 6 tahun, seumuran dengan anakku yang kedua. Betapa berdosanya orang tua yang dengfan sengaja menelantarkan 'amanah' dari Sang Pencipta.
Sungguh keadaan yang membuat pewaris 'penerus bangsa' ini harus seperti ini.

Sejenak kubenamkan lamunanku dalam tidurnya. Andai Aku jadi mereka..., sungguh sebuah kisah berat yang tak pernah kubayangkan. Dimana Ibu dan Bapaknya? Dari mana asal mereka? Tiadakah yang pedulikan mereka? Atau..... ini sengaja di kondisikan oleh orang tertentu dengan maksud tertentu... Aku tak kuasa untuk mencoba mengerti apa sebenarnya yang terjadi.

Betapa dingin rasa udara yang ada di sekelilingnya. Pastilah mereka juga rasakan itu, atau jangan-jangan sudah kebal?

Ku coba untuk memahami sebenarnya apa yang membuat mereka terjebak. Jika pun boleh memmilih, pasti dia tidak ingin hidup 'liar'.
Terngiang dalam ingatanku waktu masih sekolah. Dalam UUD 45 ada pasal yang berbunyi

'FAKIR MISKIN DAN ANAK TERLANTAR DI PELIHARA OLEH NEGARA'.

Di mana nyambungnya? Apa yang salah?

Sungguh ironis sebuah negara besar, kaya dengan sumber daya alam, sumber daya manusia tapi masih menelantarkan warganya.
Alih-alih untuk orang gelandangan, untuk dirinya dan keluarga jangan-jangan masih kurang terus...

Hai penguasa negeri ini, lihatlah dan perhatikanlah mereka.

manusia dan tanggung jawab serta pengabdian

Manusia dan tanggung jawab serta pengabdian

Tanggung Jawab terhadap Keluarga

Tanggung Jawab terhadap Keluarga(Manusia dan Tanggung Jawab serta Pengabdian)
Secara tradisional keluarga adalah tempat dimana manusia saling memberikan tanggungjawabnya. Si orang tua bertanggungjawab kepada
anaknya, anggota keluarga saling tanggungjawab. Anggota keluarga saling membantu dalam keadaan susah, saling mengurus di usia tua dan dalam keadaan sakit. Ketika salah satu anggota keluarga tidak ada rasa tanggungjawab kepada keluarganya maka dia pun tidak bisa bertanggungjawab terhadap dirinya sendiri akibatnya dia selalu mengandalkan oranglain contohnya ketika seorang anak terus-terusan di manjain oleh orangtuanya karena orangtuanya menganggap dengan tercukupi kebutuhannya sehari-hari itu sudah lebih dari cukup tetapi orangtua tidak bisa melihat dari dampak manja yang selalu diberikan orangtua,akibatnya anak tersebut tidak mempunyai rasa tanggung jawab yang tinggi dia selalu mengandalkan harta orangtuanya tanpa mengetahui susahnya untuk mencari kerjaan, pengabdiannya kepada keluarga juga tidak dapat dilakukan karena dia merasa kedua orangtuanya sibuk dengan pekerjaan masing-masing jadi dia bertindak sesuka maunya seperti tidak menuruti perintah orangtua, susah dibilangin,dan lain-lain.
Memanjakan anak sebenernya boleh saja tetapi tidak juga berlebihan karena itu bisa membuat anak menjadi pemalas tidak ada rasa tanggung jawab sama sekali dan dia selalu mengandalkan harta orangtuanya jika kedua orangtuanya merupakan orang yang kaya. Sebaiknya orangtua yang seperti itu kadang haruslah memberikan perhatian kepada anaknya agar anaknya merasa jika dia tidak sendirian dan sebaiknya dari usia dini sudahlah di ajarkan tanggung jawab agar kelak anaknya nanti bisa menjadi anak yang mempunyai rasa tanggung jawab yang tinggi dan bisa mandiri tanpa memandang harta orangtuanya.

manusia dan kegelisahan

 Manusia dan Kegelisahan

Aku Menangis Bersamamu, Rakyat Kecil

Aku menangis bersamamu, rakyat kecil: orang-orang miskin yang terpaksa antri beras murah berjam lamanya, yang tak punya biaya buat lanjutkan sekolah anaknya ke kota, yang terisak karena dirampas sawah dan ladangnya, yang semaput digebuk polisi karena terpaksa maling pupuk di gudang negara, yang ditampar yang ditinju yang dibanting serta diperkosa hak-haknya sebagai manusia.
"Wahai, Tuhan Yang Maha Kaya, beri kami Cinta!"
Aku menangis bersamamu, rakyat kecil: karena kalian hanya sanggup meratapi penindasan yang tak henti menggilas kehidupan tanpa mampu melakukan perlawanan, karena kalian cuma sanggup mengumpat dan mempertanyakan janji-janji keadilan dari bilik-bilik kalian yang kumuh sambil terbaring menahan perut yang kelaparan, karena kalian adalah mahluk kesayangan Tuhan.
"Wahai, Tuhan Pencipta Keadilan, beri kami Kekuatan."
Aku menangis bersamamu, rakyat kecil: yang kecut yang takut yang geram karena telah sekian lama dijadikan sapi perahan milik kaum modal dan penguasa, bangkitlah!, jangan diam saja, sekarang saatnya kita melawan, lawanlah kimiskinan, lawanlah pembodohan, lawanlah penjajahan yang telah berabad menginjak-injak nasibmu dengan sepatu lars kekuasaan, bersatulah wahai kaum yang kalah!, sekarang saatnya mewujudkan segala mimpimu akan keadilan yang telah sekian lama terpendam di dalam batin yang sakit dan terjajah, maju!, majulah rakyat kecil yang terhina, bersatulah, tunjukkan kini kuasa dirimu atas dunia.
"Wahai, Tuhan Penguasa Jagat Raya, beri kami Senjata."